March 5, 2009

PARAFRASA, SOLUSI ALTERNATIF MENGATASI KESULITAN MEMAHAMI MAKNA PUISI BAHASA INGGRIS

Abstrak

Puisi adalah salah satu genre sastra yang tidak serta merta dapat dipahami dan dinikmati secara instan. Penyebabnya adalah bahwa puisi menggunakan bahasa yang multi dimensional. Di satu kesempatan bahasa yang dipakai dalam puisi adalah bahasa biasa (ordinary language) yang bermakna literal. Pada tahap ini, puisi dapat dengan mudah dipahami dan dinikmati oleh pembacanya. Akan tetapi dalam banyak kesempatan yang lain puisi justeru menggunakan verse serta menggunakan berbagai macam majas (figurative language). Verse adalah gaya bahasa klasik yang digunakan oleh segelintir kaum bangsawan di Eropa dan tidak lazim dipakai oleh masyarakat awam. Persoalan ini diperumit oleh teramat seringnya penyair menggunakan bahasa yang menyimpang dari kaidah-kaidah bahasa seperti kaidah semantis, fonologis, morfologis, sintaksis, dialektis, maupun kaidah grafologis.
Tulisan ini mengkaji problematika pemahaman puisi, khususnya puisi bahasa Inggris dan menawarkan beberapa solusi dalam mengatasi kesulitan memahaminya. Di antara beberapa kemungkinan solusi yang ada, parafrasa merupakan salah satu alternatif solusi yang menjadi fokus pada kajian ini. Kegiatan parafrasa diawali dengan mengidentifikasi kata-kata kunci (key words) yang terdapat pada puisi yang diparafrasa. Kata-kata kunci itu kemudian dianalisa makna denotatifnya terlebih dahulu dan makna konotatifnya kemudian. Dari makna konotatif inilah diperoleh gambaran mengenai maksud atau isi dari puisi tersebut. Dengan parafrasa, puisi disederhanakan ke dalam bahasa prosa (prosaic language) yang lebih mudah dicerna maknanya, yang pada gilirannya membantu pembaca untuk dapat menikmati puisi yang diparafrasa tersebut.

Pendahuluan

Memahami puisi ibarat menembus kabut pagi. Kabut pagi yang indah itu selalu menghadirkan kesamaran, keremang-remangan. Tak bisa secara mudah kita menebak apa atau siapa yang berada di wilayah samar itu. Bahkan, jika kita tidak berhati-hati bisa jadi akan menabrak sana-sini. Kabut yang indah itu acapkali juga membahayakan.
Keadaan seperti di atas tentunya tidak harus menjadikan kita bersikap skeptis. Dalam suasana “remang” seperti itu dibutuhkan kepekaan dan keterampilan kita dalam mengurai kabut tersebut. Mata telanjang tidak mampu menembus keremangan suasana puisi. Untuk menembus keremangan itu dibutuhkan apa yang populer disebut oleh William Shakespeare sebagai “mind’s eye” atau mata batin.
Banyak pembaca yang dengan mudah mampu memahami dan menikmati karya sastra prosa akan menemukan kesulitan ketika diperhadapkan pada puisi. Puisi tidak dengan serta merta dapat dicerna semudah kita mencerna isi surat kabar harian atau majalah-majalah, baik majalah hiburan maupun majalah ilmiah sekalipun.
Tidak semua puisi sulit dimengerti. Beberapa diantaranya dapat dipahami isinya manakala kita baca untuk pertama kali. Ada juga yang kita pahami setelah dua atau tiga kali kita baca, kendati untuk itu kita harus tetap memperlakukannya berbeda dari karya sastra yang lain. Untuk memahami maknanya, puisi mutlak dibaca dengan perlahan, dengan hati-hati, serta penuh ketekunan.
Mengapa puisi sulit untuk kita pahami? Sejatinya, puisi memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh karya sastra prosa. Bahasa puisi adalah verse bukan prose (bahasa biasa). Verse adalah jenis bahasa puitis yang dulunya dipakai oleh kaum bangsawan (terutama di Eropa) untuk mencitrakan perbedaan status mereka dengan rakyat jelata. Di samping itu, bahasa puisi banyak mengalami penyimpangan dari kaidah-kaidah bahasa serta penggunaan ragam majas (figurative language).

Problematika Pemahaman Makna Puisi
Puisi bersifat universal. Hampir dapat dipastikan bahwa semua etnik dan budaya di dunia ini mengenal puisi. Bentuknya bisa saja bervariasi dan memakai penamaan yang berbeda-beda, namun jenis bahasa yang dipakainya relatif sama yakni verse. Karena sifat universalitasnya, maka seyogyanya puisi, darimanapun asalnya, dapat dipahami maknanya serta dapat dinikmati oleh kalangan apa saja, sepanjang dia menguasai bahasa ke dalam mana puisi itu ditulis.
Kenyataannya, kondisi tersebut di atas tidak dapat dijadikan sebagai pijakan teoritis dalam memahami makna puisi. Ini disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor yang sangat dominan adalah bahwa pada puisi terdapat berbagai ragam penyimpangan bahasa serta banyaknya ragam majas yang sering digunakan.
1. Penyimpangan Bahasa
Penyimpangan bahasa dalam puisi merupakan hal yang biasa. Seringkali penyimpangan ini justeru menjadi ciri khas seorang penyair atau sekelompok penyair dalam suatu angkatan atau periode dalam sastra. Penyimpangan itu antara lain meliputi: (1) penyimpangan leksikal, (2) penyimpangan semantis, (3) penyimpangan fonologis, (4) penyimpangan morfologis (5) penyimpangan sintaksis, (6) penyimpangan dialek, (7) penyimpangan register, (8) penyimpangan historis, dan (9) penyimpangan grafologis.
Penyimpangan yang pertama adalah bahwa puisi sering mengabaikan kaidah sintaksis. Pola sintaksis dalam puisi dapat runtut seperti dalam prosa, namun tidak jarang pula penyair menyusun pola yang lain sama sekali. Dengan demikian, penafsiran makna hanya dimungkinkan dalam konsep pikiran saja karena kita terbiasa menghadapi wacana yang dibangun dalam kesatuan sintaksis.
Kesatuan sintaksis dalam puisi dapat dibicarakan melalui baris (lines) dan bait (stanza). Sebuah baris mewakili kesatuan gagasan penyair dan jika dibangun bersama-sama baris-baris lain membangun kesatuan yang lebih besar. Bait puisi pada hakikatnya identik dengan sebuah paragraf dalam prosa. Pada sebuah puisi terdapat satu baris yang merupakan kunci gagasan. Terdapat satu atau beberapa bait yang merupakan klimaks gagasan penyair. Melalui bait yang merupakan klimaks gagasan penyair itu, dapat dijumpai tema atau amanat yang hendak disampaikan pada khalayak pembaca atau penikmat puisi.
Suatu bentuk dalam puisi dipandang sebagai penyimpangan leksikal jika bentuk tersebut mengalami penyimpangan makna secara leksikal. Hal ini ditandai oleh adanya proses morfologi yang tidak umum atau masih problematik, kata bentukan baru atau noelogisme, dan bentuk (kata) yang tanpa makna atau tidak ada dalam kamus.
Suatu bentuk dipandang sebagai penyimpangan semantis jika bentuk atau struktur itu tidak menunjuk pada makna denotatif (makna literal), melainkan makna konotatif. Penyimpangan semantis terjadi dalam hubungan struktur kalimat, yaitu jika terdapat penggabungan kata yang secara akal tidak dapat diterima. Akan tetapi hal tersebut dapat ditemukan maknanya berdasar kriteria lain, yaitu makna yang bersifat tambahan. Tinjauan penyimpangan semantis ditekankan pada makna yang dikandungnya. Contoh: frasa “red rose” pada baris “My luv is a red rose” bermakna konotatif. Secara literal makna frasa tersebut adalah “mawar merah”, namun makna konotatifnya adalah bahwa kekasih yang disebut dalam kalimat diatas begitu cantik sehingga menjadi idaman setiap orang.
Penyimpangan fonologis terjadi manakala bentuk yang ada tidak memiliki makna konvensional sebagaimana kata pada umumnya. Bentuk itu tercipta karena penyair biasanya mementingkan rima (rhyme) yang berfungsi memperindah puisi. Oleh penyair, bentuk itu dipandang sebagai kata, namun bentuk itu pada umumnya tidak dijumpai dalam kamus.
Suatu bentuk dipandang sebagai penyimpangan morfologis jika bentuk tersebut tidak lazim pemakaiannya. Ketidaklaziman itu disebabkan pembentukannya menyalahi aturan bahasa atau bentukan kata-kata baru yang masih problematis.
Suatu bentuk dipandang sebagai penyimpangan sintaksis jika struktur tersebut tidak lazim pemakaiannya dalam berbahasa secara normatif-formal. Ketidaklaziman itu sering menimbulkan ambiguitas struktur dan makna. Misalnya: penyair tidak menggunakan huruf kapital pada awal kalimat dan tanda titik pada akhir kalimat.
Penyimpangan dialek terjadi jika bentuk yang digunakan berupa dialek atau slang, baik yang bersifat regional, usia, maupun sosial. Bentuk dialek juga mencakup bentuk dari bahasa lain yang sifatnya non standar.
Penyimpangan register erat kaitannya dengan penyimpangan dialek, namun yang dipermasalahkan adalah situasi pemakaiannya, atau bagaimana dan kapan suatu bentuk liguistik dipergunakan dalam tindak berbahasa. Dalam register dipermasalahkan banyaknya variasi menurut pemakaiannya maupun pemakainya. Register disebut pula sebagai dialek profesi. Berdasarkan hal itu, register meliputi ragam ilmiah, pers, periklanan, keagamaan, dan sebagainya. Di samping itu juga termasuk sifat nada pengungkapan bahasa dalam suatu wacana, apakah bentuk kolokial (colloquial langauge) atau formal (formal language), personal atau umum, dan sebagainya.
Penyimpangan historis berkaitan dengan pemakaian kata-kata yang sudah tua dan usang (archaic words). Jadi, suatu bentuk dikatakan sebagai penyimpangan historis apabila kata atau bentuk archais tersebut dipakai pada puisi yang lebih kontemporer.
Penyimpangan grafologis mempermasalahkan penulisan bentuk dan struktur linguistik, baik menyangkut penulisan huruf, kata, kelompok kata, frase, maupun kalimat. Suatu bentuk dipandang sebagai penyimpangan grafologis jika bentuk atau struktur tersebut penulisannya tidak sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku.
2. Majas (Figurative Language)
Majas dapat diartikan sebagai kekayaan bahasa seseorang, sastrawan maupun awam, yang dimanfaatkan dalam berkomunikasi (lisan maupun tulisan) untuk mencapai efek-efek tertentu, baik efek semantik maupun efek estetik.
Secara umum terdapat majas perbandingan, majas penegasan, majas sindiran, dan majas pertentangan. Personifikasi, metafora, metonimi, eufimisme, hiperbola, sinekdok dan allusio tergolong majas perbandingan. Sedangkan pleonasme, repetisi, paralelisme, simetri, dan retoris termasuk majas penegasan. Yang dikategorikan majas sindiran adalah ironi, sarkasme, dan sinisme, sementara majas pertentangan meliputi paradoks dan antitesis.
Majas atau bahasa figuratif pada dasarnya adalah bentuk penyimpangan dari bahasa normatif, baik dari segi makna maupun rangkaian katanya, dan bertujuan untuk mencapai arti dan efek tertentu. Pada umumnya bahasa figuratif dipergunakan oleh pengarang untuk menghidupkan atau lebih mengekspresikan perasaan yang diungkapkan sebab kata-kata saja belum cukup jelas untuk menerangkan lukisan tersebut. Bahasa figuratif adalah bahasa yang mempergunakan kata-kata yang susunan dan artinya sengaja disimpangkan dari susunan dan artinya yang biasa dengan maksud mendapatkan kesegaran dan kekuatan ekspresi. Caranya adalah dengan memanfaatkan perbandingan, pertentangan, atau pertautan hal yang satu dengan yang lain, yang maknanya sudah diketahui oleh pembaca atau pendengar.
Penggunaan bahasa figuratif tidak selamanya digunakan sendiri-sendiri, tetapi sering dipergunakan secara bersama-sama dan dipadukan secara variatif. Keberhasilan dalam memadukan jenis bahasa-bahasa figuratif sangat berpengaruh dalam penafsiran dan penangkapan maknanya serta koherensi ekspresivitasnya, yang meliputi pencurahan dan penghidupan ide, pengalaman jiwa dan rasa dalam kata, frase, atau kalimat.
Di sisi penyair, penyimpangan bahasa normatif dan penggunaan majas dimaksudkan agar pembaca atau pendengar dapat dengan mudah menikmati apa yang disuguhkan oleh sang penyair tersebut. Namun dari sisi pembaca dan pendengar, hal tersebut justeru membuat puisi relatif sukar untuk dipahami maknanya.

Puisi Bahasa Inggris
Sebagai bahasa asing, bahasa Inggris tentu menciptakan masalah tersendiri. Apalagi bila kita memasuki konteks puisi. Tidak cukup dibebani untuk memahami bahasanya, kita juga harus berkutat pada bagaimana menangkap makna puisi dengan segala tetek bengeknya, termasuk dua persoalan yang di bahas di atas, yakni persoalan penyimpangan bahasa dan penggunaan majas. Dengan kata lain, dibutuhkan energi lebih (extra power) untuk memahami makna puisi bahasa Inggris.
Salah satu cara konvensional mengatasi persoalan di atas adalah dengan cara menerjemahkan puisi tersebut ke dalam bahasa Indonesia. Namun, tidak semua metode penerjemahan dapat diterapkan pada puisi. Dalam puisi kita mengenal metode phonemic translation, literal translation, metrical translation, verse-to-prose translation, rhymed translation, free verse translation, and interpretation.
Setiap metode yang disebutkan di atas memiliki kelemahan-kelemahan. Tidak ada satu metode pun yang dapat dipergunakan untuk menerjemahkan suatu puisi dengan sempurna. Kendati demikian, metode Free Verse Translation (penerjemahan bebas) relatif lebih sering dipakai. Dengan metode ini, penerjemah bisa mendapatkan padanan yang akurat dalam bahasa sasaran. Tentu saja, kita tidak akan melihat rima (Rhyme) dari puisi itu, sehingga dapat katakan bahwa hasil terjemahan puisi itu secara semantik sama, akan tetapi secara fisik berbeda dari aslinya.
Parafrasa, Solusi Alternatif
Di samping penerjemahan puisi, cara lain yang dapat dilakukan untuk mempermudah memahami makna puisi bahasa Inggris adalah dengan cara memparafrasa (paraphrasing) puisi yang sedang di baca. Menurut Kennedy dan Gioia (1995), parafrasa dilakukan dengan cara menulis apa yang diketahui pada puisi yang ada dengan menggunakan kata-kata sendiri, mencantumkan ide-ide pokok, serta menulis apa yang puisi itu isyaratkan. Langkah parafrasa berikutnya adalah dengan cara membandingkan hasil parafrasa tersebut dengan puisi aslinya. Hasil parafrase bisa jauh lebih panjang dari puisi aslinya, namun tidak lebih panjang dari suatu ringkasan (summary).
Sebagai illustrasi bagaimana memparafrasa suatu puisi, kita amati puisi-puisi berikut ini:
1. The Lake Isle of Innisfree
I will arise and go now, and go to Innisfree,
And a small cabin build there, of clay and wattles made
Nine bean-rows will I have there, a hive for the honey-bee
And live alone in the bee-loud-glade.

And I shall have some peace there, for peace come dropping slow,
Dropping from the veils of the morning to where the cricket sings;
There midnight’s all a glimmer, and noon a purple glow,
And evening full of the linnet’s wings.

I will arise and go now, for always night and day
I hear lake water lapping with low sounds by the shore;
While I stand on the roadway, or on the pavements gray,
I hear it in the deep heart’s core.
(William Butler Yeats)

Yeats menulis puisi di atas menyangkut penggambaran sebuah pulau di tengah danau yang terletak di Irlandia bagian barat, di sebuah daerah di mana dia menghabiskan masa kecilnya. Kendatipun nampak sederhana, namun puisi di atas jauh dari kesederhanaan. Kita harus mencoba memahaminya dengan melibatkan pikiran.
Persoalan yang mungkin muncul ketika kita mencoba memparafrasa puisi di atas adalah persoalan penyimpangan historis; di mana Yeats menggunakan beberapa kata archais (usang). Sebagai contoh adalah penggunaan kata wattles, glade, dan linnet. Apa sesungguhnya arti kata “wattles”, bahan pembuat tenda yang hendak didirikan di tepi danau oleh Yeats. Namun itu bisa ditebak, bahwa “wattles” di sini adalah sejenis rangka tenda yang terbuat dari tongkat atau sekumpulan ranting pepohonan. Kata “glade” bisa berarti sebuah tempat terbuka dalam hutan, dan kata “linnet” bisa disederhanakan menjadi kata “burung” karena pada penggambarannya binatang ini memiliki sayap dan bisa terbang.
Setelah kata-kata archais di atas telah kita interpretasi, maka kita bisa memparafrase puisi di atas seperti berikut ini: “ I am going to get up now, go to Innisfree, build a cabin, plant beans, keep bees, and live peacefully by myself amid nature and beautiful light. I want to, because I can’t forget the sound of that lake water. When I am in the city, a gray and dingy place, I seem to hear it deep inside me.”
Dalam bahasa Indonesia, hasil parafrasa di atas kira-kira artinya seperti berikut ini: “saya akan bangun sekarang, lalu pergi ke Innisfree, membangun tenda, menanam kacang, memelihara lebah, dan hidup dengan damai berdampingan dengan alam dan cahaya yang indah. Saya ingin sekali, dikarenakan saya tidak dapat melupakan suara air di danau itu. Bila saya di kota, ditempat yang kacau dan kotor, suara-suara itu terlalu dalam menusuk di hati saya.”

2. London

I wander through each chartered street
Near where the chartered Thames does flow
And mark in every face I meet
Marks of weakness, marks of woe


In every cry of every man
In every infant’s cry of fear
In every voice, in every ban
The mind-forged manacles I hear

How the chimney-sweeper’s cry
Every black’ning church appalls
And the hapless soldier’s sigh
Runs in blood down palace walls

But most through midnight streets I hear
How the youthful harlot’s curse
Blasts the new born infant’s tear
And blights with plagues the marriage hearse.

(William Blake)

Ada tiga kata kunci dari puisi di atas yang perlu dijelaskan sebelum kita memparafrasa puisi itu secara keseluruhan. Tiga kata yang dimaksud adalah kata: chartered, black’ning, and blasts (blights).
Chartered (baris 1, 2)
Makna Denotatif: Established by a charter (a written grant or a certificate of incorporation); leased or hired. (Indonesia = Dibangun oleh sebuah Charter, perusahaan, atau di sewakan).
Makna Konotatif: Defined, limited, restricted, channeled, mapped, bound by law; bought and sold (like a slave); Magna Carta; charters given colonies by the King. (Indonesia = terbatas, dibatasi oleh hukum, diperjualbelikan layaknya budak)
Black’ning (baris 10)
Makna Denotatif: Becoming black (Indonesia = menjadi hitam)
Makna Konotatif: The darkening of something once light, the defilement of something once clean, the deepening of guilt; the gathering of darkness at the approach of night. (Indonesia = Proses pengotoran apa yang selama ini bersih)
Blasts, blights (baris 15-16)
Makna Denotatif: Blast and blight mean “to cause to wither” or “to ruin and destroy”. Both are terms from horticulture. Frost blasts a bud and kills it; disease blights a growing plant. (Indonesia = Menyebabkan kehancuran)
Makna Konotatif: Sickness and death; gardens shriveled and dying; gusts of wind and the ravages of insects; things blown to pieces; or rotted and warped. (Indonesia = Penyakit dan kematian).

Dari analisa ketiga kata kunci kita dapat menulis parafrasa sebagai berikut:

“The street has mapped out for it the direction in which it must go. The Thames river has laid down to it the course it must follow. Street and river are channeled, imprisoned, enslaved (like every inhabitants of London). Every London church grows black from soot and hires a chimney-sweeper (a small boy) to help clean it. This also implies that by profiting from the suffering of child laborer, the church is soiling or dirtying its purity. The harlot spreads the plague of syphilis, which, carried into marriage, can cause a baby to be born blind. In a larger and more meaningful sense, Blake sees the prostitution of even one young girl corrupting the entire institution of matrimony and endangering every child.”
Terjemahan dari parafrasa di atas kurang lebih seperti berikut ini:
“Jalan-jalan sudah dipetakan berdasarkan arahnya masing-masing. Sungai Thames ada di sana mengalir sebagaimana adanya. Jalan-jalan dan sungai telah tergadai sebagaimana penduduk kota London. Setiap gereja di London semakin lama semakin menghitam karena lumut dan menyewa anak kecil untuk membersihkannya. Dengan mengambil keuntungan dari penderitaan anak itu, gereja sebenarnya telah mengotori kesuciannya. Para pelacur menyebarkan penyakit sipilis, yang jika kelak terbawa sampai ke pernikahan, akan melahirkan anak yang buta. Pelacuran telah menyebabkan kehancuran keluarga dan membahayakan hidup setiap anak.”

Dari illustrasi di atas nampak bahwa kegiatan parafrasa puisi diawali dengan mengidentifikasi kata-kata kunci (key words). Kata-kata kunci itu kemudian dianalisa makna denotatifnya terlebih dahulu dan makna konotatifnya kemudian. Dari makna konotatif inilah diperoleh gambaran mengenai maksud atau isi dari puisi tersebut.

Penutup
Disadari bahwa bahasa puisi (poetic language) bahasa Inggris memiliki beberapa penyimpangan, baik penyimpangan yang bersifat leksikal, semantik, fonologis, morfologis, sintaksis, dialektis, register, historis, maupun penyimpangan grafologis. Para penyair melakukan penyimpangan-penyimpangan tersebut bukan tanpa alasan. Dari aspek sintaksis misalnya, penyair pada umumnya melakukan penyimpangan itu demi memenuhi suatu ritme (rhythm), rima (rhyme) dan / atau untuk memberi tekanan tertentu pada bagian kalimat.
Parafrasa mengatasi penyimpangan-penyimpangan di atas dengan cara mengubah atau mengonversinya ke dalam kaidah-kaidah bahasa prosa (prosaic language) yang baik dan benar. Intinya, parafrasa adalah proses ‘menulis ulang’ bahasa-bahasa puisi (poetic language) dengan cara yang lebih sederhana, jelas dan mudah dimengerti. Namun ini tidak berarti parafrasa tidak memiliki kelemahan. Salah satu kelemahannya adalah bahwa parafrasa cenderung bersifat personal, sehingga tidak semua pembaca dapat meyakini keakuratan parafrasa tersebut. Kita dapat menulis parafrasa menurut pemahaman kita sendiri. Terkadang, hasil parafrasa jauh menyimpang dari apa yang dikehendaki oleh penulis puisi yang diparafrasa tersebut. Akan tetapi, paling tidak parafrasa dapat menolong kita sebagai solusi alternatif dalam mengatasi kesulitan memahami puisi bahasa Inggris yang tak kalah indah dan bermakna dari puisi bahasa Indonesia.

Daftar Pustaka
Effendi, Dr.S. (2002). Bimbingan Apresiasi Puisi. Edisi Keempat. Jakarta: Pustaka Jaya
Frederick, Juliana Tirajoh. (1988). English Poetry. An introduction to Indonesian Students. Jakarta: Depdikbud
Hurford, Christopher. Ed. (1996). The Giant Book of Favourite Verse. London: Magpies Book Ltd.
Kennedy, X.J & Dana Gioia. (1995). Literature: An Introduction to Fiction, Poetry, and Drama, Sixth Edition. New York: HarperCollins Publishers
Perrine, Laurence. (1969) Sound and Sense: An Introduction to Poetry, Third Edition. New York: Harcourt & Brace and World Inc.
Wallace, Robert. (1991). Writing Poems. Third Edition. New York: HarperCollins Publishers